Tuesday, January 11, 2011

10 perkara perbuatan sia-sia ..


Sufyan ats-Tsauri, seorang ulama hadis yang terkemuka, menyatakan bahawa
ada sepuluh hal yang termasuk dalam kategori sia-sia, iaitu:-

1.Laki-laki atau wanita yang berdoa untuk dirinya sendiri, tapi tidak dimohonkannya doa untuk ibu-bapanya sendiri dan kaum Muslimin.

2.Orang yang kerapkali membaca Al Quran, tapi tidak membaca secara tertib sampai seratus ayat tiap-tiap hari.

3.Laki-laki yang masuk ke dalam masjid, kemudian ia keluar kembali dari masjid itu tanpa mengerjakan shalat tahiyatul-masjid.

4.Orang-orang yang melewati tanah perkuburan, tapi tidak mengucapkan salam kepada penghuni-penghuni kubur dan tidak mendoakan untuk
keselamatan arwah-arwah mereka.

5.Laki-laki yang masuk pada hari Jumaat ke suatu kota, kemudian ia keluar lagi dari kota itu tanpa mengerjakan shalat Jumaat berjemaah.

6.Laki-laki atau wanita yang tinggal di suatu lingkungan dengan seorang ulama, tapi dia tidak mempergunakan kesempatan itu untuk menambah ilmu pengetahuan.

7.Dua orang laki-laki yang bersahabat, tapi mereka tidak saling menanyakan tentang keadaan masing-masing dan keluarganya.

8.Laki-laki yang mengundang seseorang menjadi tetamunya, tapi tidak diacuhkan dan tidak dilayani tetamunya itu.

9.Pemuda yang menjadikan zaman mudanya berlalu begitu saja tanpa memanfaatkan waktu yang berharga itu untuk menuntut ilmu dan
meningkatkan budi pekerti.

10.Orang yang tidak menyedari tetangganya yang merintih lantaran kelaparan, sedang ia sendiri makan kekenyangan di dalam rumahnya.

wallahuallam

Monday, August 2, 2010

Rabbighfirli Warhamni



BESARNYA makna DOA YANG KITA LUPAKAN- semasa duduk antara dua sujud

Dalam tidak sedar.

Setiap hari kita memohon didalam solat kita..tetapi sayangnya, kita hanya memohon tanpa memahami.. sekadar tersebut dibibir, tetapi tidak tersentuh dari hati kita selama ini..

Marilah kita mula menghayati ketika kita duduk di antara dua sujud semasa solat..

Dengan rendah hati nyatakanlah permohonan ampun kepada Allah

Rabbighfirli (Tuhanku, ampuni aku)

Diamlah sejenak,

buka dada dan diri kita untuk menerima ampunan dari Allah seperti membuka diri ketika merasakan hembusan angin sepoi-sepoi atau menerima curahan air hujan ketika kita masih kecil

Tetaplah membuka diri kita untuk menerima ampunan Allah

Ulangi permintaan itu beberapa kali hingga kita merasakan ketenangan Kemudian sampaikanlah permintaan kedua,

Warhamni (sayangi aku)

Diam dan tundukkanlah diri kita untuk menerima kasih-sayang Allah yang tak terhitung besarnya

Bukalah dada kita seluas-luasnya agar semakin banyak kasih-sayang Allah yang kita terima

Ulanglah beberapa kali hingga kita merasa cukup Berturut-turut sampaikanlah permintaan2 berikut dengan cara sebagaimana tersebut di atas, satu persatu..

Wajburnii (tutuplah aib-aibku)

Warfa'nii (angkatlah darjatku)

Warzuqnii (berilah aku rezeki)

Wahdinii (berilah aku petunjuk)

Wa'Aafinii (sihatkan aku)

Wa'fuannii (maafkan aku)

Setelah selsai, diamlah sejenaklalu sampaikan rasa syukur kita

Betapa besarnya nilai sebuah doa ini..sebuah doa yang kita hanya lewatkan begitu sahaja..

Dalam tidak kita sedar selama ini kita seperti sedang berpura-pura memohon sesuatu

tetapi hati antara tidak dan mahu pantaslah Allah perlakukan kita begitu.

Thursday, June 17, 2010

MALU


Pertama ; Rasa malu kerana berbuat salah, seperti rasa malu Nabi Adam ‘alaihissalam yang melarikan diri dari Allah SWT saat di syurga. Ketika Allah SWT bertanya , “Mengapa kamu melarikan dirimu dariKu wahai Adam?” Adam menjawab, “Tidak wahai Tuhanku, melainkan kerana rasa malu terhadap engkau”.

Kedua ; Rasa malu kerana keterbatasan diri (kelemahan dan rasa serba tidak sempurna), , seperti rasa malu para malaikat yang membuatkan mereka senantiasa bertasbih kepada Allah SWT siang dan malam bahkan tanpa sesaat pun tanpa tasbih, namun demikian pada hari kiamat kelak mereka berkata, “Mahasuci Engkau ya Allah, kami belum dapat menyembahMu dengan sebenar-benar penyembahan.”

Ketiga ; Rasa malu kerana pengagungan atau dikenali juga sebagai rasa malu kerana memiliki makrifah kepada Allah (mengenal Allah lalu ngagungkanNya)., Ketahuilah wahai sahabat sekalian bahawasanya sejauh mana makrifah seseorang hamba terhadap Tuhannya maka sejauh itu pula rasa malunya terhadap Allah SWT.

Keempat ; Rasa malu kerana kehalusan budi, seperti rasa malu Rasulullah SAW saat mengundang orang ramai pada acara walimah Saidatuna Zainab ra.Kerana mereka tidak segera pulang, Baginda bangkit dari duduknya dan merasa malu untuk mengatakan kepada mereka, “Pulanglah kalian”.

Kelima ; Rasa malu kerana menjaga kesopanan , seperti rasa malu Ali ibn Abi Thalib ketika hendak meminta baju besi kepada Rasulullah SAW kerana dia adalah suami kepada Puteri Rasulullah SAW.

Keenam ; Rasa malu kerana merasa diri terlalu hina seperti rasa malu seorang hamba yang memohon bermacam-macam keperluan kepada Allah SWT dengan menganggap bahawa ia adalah hamba yang terlalu hina di hadapan Allah SWT atas banyaknya hajat dan keperluannya kepada Allah SWT.

Ketujuh ; Rasa malu kerana cinta, iaitu rasa malu orang yang mencintai di hadapan kekasihnya bahkan ketika terlintas di dalam fikirannya saat berjauhan dengan kekasihnya, dia tetap merasa malu tanpa diketahui apa sebabnya, apalagi jika kekasihnya muncul secara tiba-tiba di hadapannya.

Kelapan ; Rasa malu kerana ubudiyah, yakni rasa malu yang bercampur dengan cinta dan rasa takut. Seorang hamba yang merasa ubudiyahnya masih kurang, sementara kekuasaan Yang Disembah terlalu agung, sehingga ubudiyahnya yang kurang dan cacat serta tidak sempurna itu membuatnya rasa malu.

Kesembilan ; Rasa malu kerana kemuliaan, yakni rasa malu seorang hamba yang memiliki jiwa agung tatkala berbuat baik atau memberikan sesuatu kepada orang lain. Sekalipun dia sudah terkorban dengan mengeluarkan sesuatu namun dia merasakan kekurangan dalam berbuat baik.

Kesepuluh; Rasa malu terhadap diri sendiri, yakni rasa malu seseorang yang memiliki jiwa besar dan mulia andaikata dia memiliki rasa redha dengan kekurangan diri sendiri dan merasa puas pula melihat kekurangan orang selain dia. Dia merasa malu terhadap dirinya sendiri sehingga seakan dia memiliki dua jiwa, yang satu merasa malu terhadap yang lainnya. Ini merupakan rasa malu yang paling sempurna. Sebab, jika seorang hamba merasa malu terhadap dirinya sendiri maka dia lebih layak untuk merasa malu terhadap orang lain.

Allahumma, kurniakan kami hakikat rasa malu seperti yang Engkau kehendaki